makan di lembang bandung

“Taste of food and service is a...” © 2017 TripAdvisor LLC All rights reserved. TripAdvisor Terms of Use and Privacy Policy.Salah satu tempat yang ingin saya kunjungi ketika liburan ke Bandung adalah tempat makan yang lagi heits banget ini. Interior restaurant yang unik dengan area makan yang berbentuk sangkar burung, sering seliweran di timeline account social media saya dalam setahun terakhir. Penasaran dong saya pengen datang langsung ke sana. Setelah puas belanja cokelat di Chocomory, tujuan kami selanjutnya adalah Dusun Bambu. Pas banget jamnya mendekati jam makan siang. Perut pun udah keroncongan. Tanpa pikir panjang, kami langsung meluncur ke Dusun Bambu yang terletak di Jln Kolonel Masturi Lembang ini. Kami yang saat itu mengambil rute Jakarta-Bandung via Puncak memutuskan untuk mengambil jalur pintas ke Lembang dari Padalarang/Cimahi. Soalnya kalo lewat Bandung kota dulu kan malah jadi muter jalannya. Dengan kesotoyan tingkat tinggi, saya pun memberikan arahan ke adik ipar saya, rute dari arah puncak menuju Lembang. Y
ah namanya juga saya sotoy yah, gak benar-benar tau, jadi di tengah jalan saya nyerah karena kebingungan. Akhirnya, prinsip ‘in waze we trust’ pun kembali ditegakkan. 😆wholesale aquarium fish los angeles Waktu tempuhnya kalo menurut Waze kurang lebih 1 jam. Rubest way to filter tropical fish tankik turun gunung dan melewati pemukiman warga yang jalannya super sempit. Wacan i buy aquarium fish onlineze ini memang jagoan cari rute terdekat tapi doi ndak ngasi tau kalo ternyata jalannya rada nge-trail. Tracrylic fish tank cheapus, Waze juga ternyata gak nge-detect kalo ada jalan yang ditutup karena perbaikan. Alglass fish tank hood
hasil kami sempat mutar-mutar kebingungan cari jalan lain. Kalo dari arah Bandung Kota, akses ke Dusun Bambu ini gak susah-susah banget kok. Damarine aquarium shop in bangaloreri Terminal Ledeng bisa lewat Sersan Bajuri atau lewat Lembang. Kurang lebih sejam kemudian, kami pun sampai di Dusun Bambu. Kesan pertama lihat tempatnya : adem banget! Terlebih saat itu juga lagi mendung. Jadi udaranya memang sejuuuuk banget. Dusun Bambu ini terletak di lahan seluas kurang lebih 15 hektar. Usut punya usut, ternyata pemilik Dusun Bambu ini sama dengan pemilik Kampung Daun, bapak Ronny Lukito. Beliau seorang pengusaha sukses yang juga melahirkan brand besar seperti Exsport, Eiger, dan Bodypack. Untuk masuk ke dalam kawasan Dusun Bambu ini, kita harus membeli tiket masuk seharga Rp10.000 per orang dan biaya retribusi untuk parkir mobil sebesar Rp15.000 per mobil. Tiket masuk tersebut berlaku untuk anak usia 3 tahun ke atas.
Setelah membeli tiket masuk dan membayar retribusi parkir di gerbang utama, kami pun melanjutkan perjalanan. Sekitar 500 meter dari gerbang utama, kami disambut oleh tugu selamat datang yang terbuat dari bambu. Parkir mobil terletak tidak jauh dari sana. Ternyata untuk sampai ke area restaurantnya, kami harus naik shuttle car yang dihias dengan bunga berwarna-warni. LuShuttle car ini selalu standby mengantarkan tamu dari parkiran menuju restaurant. Suasana alam dan nuansa sundanese sangat kental terasa di areal Dusun Bambu ini. Untuk pilihan restaurant, di sana ada 3 restaurant dengan tema berbeda. Jika mau merasakan makan di saung sunda, ada restaurant Purbasari yang berupa saung-saung di pinggir danau. Lalu ada pula Cafe Burangrang dengan desain interior yang modern. Nah, yang paling famous pastinya restaurant yang bentuknya menyerupai sangkar burung. Namanya Lutung Kasarung. Makan di Lutung Kasarung itulah yang saya incar sejak dari Pekanbaru. 😆Untungnya kami datang saat weekday, jadi gak perlu pake ngantri untuk makan di sana. Trus
bisa milih mau makan di ‘sangkar’ yang mana. Hal yang pasti akan sulit kami lakukan jika kami datang di akhir pekan. 🙂 elain restaurant, Dusun Bambu juga memiliki fasilitas lain. Salah satunya adalah penginapan yang bernama Kampung Layang. Penginapan ini modelnya seperti cottage yang terdiri dari (kalo gak salah) 2 kamar. Saya coba tanya harganya ke receptionist Kampung Layang. Katanya sih kurang lebih 2 juta per cottage. Lumayan terjangkau ya, mengingat 1 cottage bisa diisi 1 keluarga besar. 😉 yway, satu hal yang menarik perhatian saya sejak saya browsing info soal Dusun Bambu ini adalah areal campingnya. Jadi, di Dusun Bambu ini ada satu area yang biasa digunakan untuk camping. Namanya Eagle Camp. Kalo baca infonya di web sih, kayaknya tenda juga disediakan oleh pihak Dusun Bambu. Tendanya cakep deh. Saya kebayang itu bakalan seru banget pastinya camping di bawah kaki gunung Burangrang yang udaranya super sejuk. Pengen ah kapan-kapan nyobain. 🙂 ya, selain makanan berat yang disajikan di tiga restaurant, di Dusun Bambu juga ada Pasar Khatulistiwa yang menjual beragam jajanan pasar khas orang Sunda. Ada kue
pukis, tahu gejrot, dsb. Uniknya, proses jual beli di Pasar Khatulistiwa ini menggunakan voucher. Jadi kita beli vouchernya dulu, trus baru deh voucher itu ditukarkan di kios-kios yang ada dengan jajanan yang mau kita beli. Setelah puas melihat jajanan di Pasar Khatulistiwa, kami pun langsung menuju ke ‘sangkar burung’ alias Lutung Kasarung. Perut s Lembang yang sejuk membuat kami ingin memesan makanan yang hangat. Beberapa pilihan menu makanannya emang cocok banget disantap di udara yang sejuk itu. Ada sop buntut, soto sulung, soto Bandung, dan yang pastinya ada di restaurant-restaurant di Bandung ya paket nasi timbel. 😀 saya lihat dari harganya, menurut saya harganya masih sangat affordable. Terlebih untuk tempat makan seperti itu yang biasanya mahil-mahil. Range harga makanan di Dusun Bambu berkisar dari 20-60rb rupiah. Oh ya, kalo kita makan di ‘sangkar burung’ itu, kita juga dikenakan charge sewa tempat sebesar Rp100.000 per jam. Siasat jitu nih buat menghindari tamu yang cuma mau ‘numpang foto di sangkar burung dan pesan minum doang’. 😛 W
rasa makanannya surprisingly enak. Gak heran sih ya kalo tau pemilik tempat ini sama dengan pemilik Kampung Daun. Makanan di Kampung Daun kan juga enak-enak. Kualitas rasa itu juga terbukti di Dusun Bambu ini. Favorite saya sih Sop Buntutnya. Kuahnya segar banget. Daging buntutnya juga lembuuut banget. Kalo ditanya saya mau balik lagi ke Dusun Bambu apa ngga, definitely jawabannya “mau bangetttttt”. Selain karena tempatnya yang adem, makanannya yang enak, dan harganya yang affordable, masih banyak sudut Dusun Bambu yang belum saya explore. Belum ngerasain naik sampannya juga karena lagi hujan hehehe. Jadi pokoknya gak akan ragu deh buat ngeiyain kalo ada yang mau ngajakin saya ke sana lagi. 😉 Oh tempat ini juga cocok banget buat gathering kantor. Pas kemarin ke sana, saya lihat ada sebuah perusahaan yang lagi ngadain gathering di sana. Seru ih. Banak juga asik-asik aja, soalnya ada playgroundnya. Pasti anak-anak seneng banget deh diajakin main di situ. Ah, andaikan Pekanbaru punya tempat sekeren ini yaaa.. Ngarep ban